Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Kadisnak Sebut Virus Flu Burung Jadi Penyebab Kematian 2.303 Ayam di Sinjai Utara

Selasa, 06 Oktober 2026 | 18:36 WIB Last Updated 2026-10-06T10:36:15Z

PAPARAZZIINDO.com. SINJAI SULAWESI SELATAN — Fenomena kematian mendadak ribuan ekor unggas yang melanda Kecamatan Sinjai Utara, Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan, akhirnya terkuak. 

Berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium, ribuan ayam milik warga tersebut dipastikan mati akibat terinfeksi virus Avian Influenza (AI) atau yang populer dikenal sebagai wabah flu burung.

"Kepastian tersebut diperoleh setelah Balai Besar Veteriner (BBVET) Maros merilis hasil uji sampel dengan metode Influenza AqRT-PCR pada Senin, 5 Oktober 2026. Dari tiga sampel yang diperiksa, terdiri dari dua sampel organ dan satu sampel swab orofaring, petugas laboratorium mendeteksi adanya material genetik virus Influenza A,"ujar Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Kadisnak) Sinjai, Syamsul Alam saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa  (06/09/2026).

Kasus kematian massal ini pertama kali terdeteksi pada 29 September 2026 di Kelurahan Lappa, ketika Kepala Lingkungan Talibunging, H. Amir, melaporkan sebanyak 53 ekor ayam mati mendadak hanya dalam kurun waktu seminggu. 

Tak lama berselang, laporan serupa datang dari Amiruddin, warga Kelurahan Biringere. Ia melaporkan 25 ekor ayam kampung atau ayam buras miliknya mati mendadak setelah menunjukkan gejala klinis khas, seperti jengger dan pial berwarna kebiruan hingga kehitaman, lemas, mengantuk, serta mengalami sesak napas.

Rentetan kasus kematian unggas terus melonjak signifikan hingga rentang waktu 23 September hingga 5 Oktober 2026. Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Sinjai mencatat total akumulasi kematian unggas telah menyentuh angka 2.303 ekor. 

Mayoritas ternak yang terdampak merupakan ayam kampung sebanyak 2.297 ekor dan 6 ekor itik, sementara untuk populasi ayam ras pedaging maupun petelur hingga kini belum ditemukan adanya kasus. 

Wabah ini telah berdampak langsung pada 101 kepala keluarga yang tersebar di empat kelurahan, yakni Kelurahan Biringere dengan 833 ekor, Kelurahan Lappa 815 ekor, Kelurahan Balangnipa 571 ekor, serta Kelurahan Bongki sebanyak 84 ekor.

Akibat musibah ini, kerugian ekonomi yang ditanggung para peternak dan pemilik usaha perunggasan di Kabupaten Sinjai ditaksir mencapai angka Rp 160 juta hingga Rp 200 juta.

Menanggapi situasi darurat tersebut, tim gabungan telah melayangkan serangkaian langkah cepat dengan melakukan desinfeksi di 109 titik lokasi penularan yang tersebar di empat kelurahan terdampak. 

Pemerintah daerah juga menyiapkan sejumlah rencana tindak lanjut terukur, mulai dari desinfeksi total, pemusnahan terbatas atau stamping out terhadap unggas yang sakit maupun yang berada di sekitar lokasi wabah, hingga penerapan karantina wilayah untuk menutup lalu lintas keluar-masuk unggas, produk olahan, dan peralatan ternak dari area zona merah. 

Selain itu, vaksinasi selektif akan diberikan kepada populasi unggas yang masih sehat di area luar pusat infeksi, didampingi koordinasi ketat lintas sektor antara dinas kesehatan hewan dan kesehatan manusia.

Meski virus flu burung tergolong sangat ganas dengan tingkat kematian mencapai 100 persen pada populasi unggas, otoritas setempat memastikan hingga saat ini belum ada laporan penularan kasus AI pada manusia. 

Pemerintah mengimbau masyarakat untuk tidak panik, tidak mudah terpengaruh oleh isu menyesatkan, serta selalu memantau informasi resmi dari saluran pemerintah.

Guna mencegah potensi penularan dan risiko ke manusia, warga diminta untuk segera melaporkan setiap penemuan unggas sakit ke Puskeswan terdekat dan memisahkan ternak yang bergejala. Bangkai unggas yang mati tidak boleh dibuang sembarangan, melainkan harus segera dimusnahkan dengan cara dikubur atau dibakar. 

Warga juga diingatkan untuk memperketat kebersihan kandang menggunakan deterjen dan desinfektan, serta menjaga proteksi diri menggunakan masker dan sarung tangan saat menangani ternak. 

Bagi konsumen, daging unggas wajib dimasak hingga matang sempurna pada suhu minimal 70 hingga 100 derajat Celsius selama sekurang-kurangnya satu menit, serta senantiasa menerapkan pola hidup bersih dengan mencuci tangan memakai sabun di air mengalir. 

Apabila ada anggota keluarga yang mengalami gejala flu, demam tinggi, atau sesak napas setelah melakukan kontak langsung dengan unggas sakit, disarankan untuk segera memeriksakan diri ke Puskesmas atau rumah sakit terdekat. (*).
×
Berita Terbaru Update