PAPARAZZIINDO.COM. SINJAI – Wajah pendidikan di Kabupaten Sinjai mulai bersalin rupa sejak Senin (5/1/2026). Dinas Pendidikan Kabupaten Sinjai secara resmi memulai uji coba kebijakan 5 Hari Sekolah untuk seluruh tingkatan, mulai dari PAUD, TK, SD, hingga SMP.
Kebijakan ini mengubah ritme belajar yang selama ini enam hari menjadi Senin hingga Jumat, memberikan "napas baru" bagi interaksi antara siswa dan keluarga.
Kepala Dinas Pendidikan Sinjai, Irwan Suaib, menjelaskan bahwa transisi ini bukan sekadar mengikuti tren, melainkan langkah strategis berdasarkan Perpres Nomor 21 dan Permendikbud Nomor 23 Tahun 2017.
"Target kita adalah pembentukan karakter. Dengan libur di hari Sabtu dan Minggu, anak-anak memiliki waktu lebih banyak untuk berinteraksi dengan keluarga atau mengembangkan bakat di luar jam akademik," jelas Irwan saat memantau pelaksanaan hari pertama di SDN 3 Balangnipa.
Respons Orang Tua: Antara Efisiensi dan Kedekatan Emosional
Meskipun kebijakan ini berkonkuensi pada jam belajar harian yang lebih padat, gelombang dukungan datang dari para orang tua siswa. Mereka melihat kebijakan ini sebagai solusi atas kurangnya waktu berkualitas antara anak dan orang tua di tengah kesibukan sehari-hari.
Pendidikan Karakter dan Efisiensi
Seorang orang tua siswa sekaligus praktisi pendidikan, yang juga Kepala SDN 06 Paruntu, Surti Mada menilai ada nilai tambah dari sisi akademis. Menurutnya, jam pelajaran yang lebih panjang memungkinkan materi diajarkan secara lebih mendalam dan menyeluruh (full day school).
"Hal ini dapat meningkatkan konsentrasi siswa karena jadwal yang padat di hari sekolah, namun dibayar lunas dengan penguatan karakter melalui interaksi keluarga di akhir pekan," ungkapnya saat dihubungi via WhatsApp. Selasa (06/12/2026).
Mencegah Burnout pada Anak
Dukungan senada datang dari Elang Suganda, orang tua dari Adelia Putri Suganda (siswi SDN 06 Paruntu). Ia melihat kebijakan ini dari sisi kesehatan mental anak.
"Kami percaya keseimbangan antara sekolah dan rumah adalah kunci tumbuh kembang optimal. Libur dua hari penuh sangat berharga agar anak tidak mengalami burnout atau kelelahan fisik. Anak-anak jadi punya waktu untuk rekreasi atau sekadar menekuni hobi tanpa terbeban rutinitas sekolah," tutur Elang.
Kedisiplinan yang Meningkat
Adi Piesta, orang tua siswa lainnya, juga menyambut baik efisiensi waktu yang ditawarkan. Ia melihat pola lima hari ini secara alami akan mendorong anak-anak untuk lebih disiplin dan fokus selama hari sekolah.
"Ini langkah positif bagi kualitas pendidikan di Sinjai. Harapan kami, sekolah tetap menjaga agar beban belajar tidak terasa terlalu berat dan suasana belajar tetap menyenangkan," harapnya.
Evaluasi Satu Bulan
Uji coba ini akan berlangsung hingga 5 Februari 2026. Pemerintah Kabupaten Sinjai berharap, kedekatan emosional yang terbangun selama dua hari libur di rumah dapat menjadi benteng bagi anak-anak agar terhindar dari perilaku negatif seperti tawuran, bullying, hingga narkoba.
Setelah masa uji coba berakhir, Dinas Pendidikan akan melakukan evaluasi total dengan menyerap aspirasi dari tenaga pendidik dan orang tua siswa untuk menentukan apakah kebijakan 5 hari sekolah ini akan dipatenkan secara permanen atau memerlukan penyesuaian lebih lanjut. (Pz).